Resolusi nama yang berkaitan dengan jaringan IP adalah proses pemetaan alamat IP ke nama host, sehingga lebih mudah untuk mengidentifikasi sumber daya pada jaringan. Bagian berikut akan menjelaskan bagaimana cara mengkonfigurasi sistem menggunakan resolusi nama DNS dan catatan hostname statis.
Konfigurasi DNS Client
Secara tradisional, file /etc/resolv.conf merupakan konfigurasi file statis yang jarang sekali untuk diubah atau diubah secara otomatis melalui kait DHCP client. Saat ini, sebuah komputer tidak jarang dapat berpindah dari satu jaringan ke jaringan lainnya dan saat ini kerangka resolvconf sedang digunakan untuk melacak perubahan ini dan memperbaharui konfigurasi resolver (alamat DNS) secara otomatis. Resolvconf berperan sebagai perantara antara program yang memberikan informasi nameserver dan aplikasi yang memerlukan informasi nameserver. Resolvconf akan diisi dengan informasi dengan satu set skrip hook yang berhubungan dengan konfigurasi interface jaringan. Perbedaan paling menonjol untuk pengguna bahwa setiap perubahan secara manual yang dilakukan dalam file /etc/resolv.conf akan hilang karena akan ditimpa setiap kali sesuatu yang memicu resolvconf. Sebaliknya, resolvconf menggunakan DHCP kait klien (DHCP client), dan /etc/network/interfaces untuk menghasilkan daftar nameserver dan domain untuk dimasukkan ke dalam /etc/resolv.conf, dengan tautan simboliknya (symlink) :
/etc/resolv.conf -> ../run/resolvconf/resolv.conf
Untuk mengkonfigurasi resolver, tambahkan alamat IP dari nameserver yang sesuai untuk jaringan di file /etc/network/interfaces. Dapat juga menambahkan akhiran DNS opsional pencarian daftar untuk mencocokkan nama domain dalam jaringan. Untuk setiap opsi konfigurasi valid resolv.conf satu dengan yang lainnya, dapat menyertakan, dalam bait, satu baris yang diawali dengan nama pilihan dengan dns-awalan (dns-prefix). File yang dihasilkan akan terlihat seperti berikut:
iface eth0 inet static
address 192.168.3.3
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.3.1
dns-search smksakti.sch.id
dns-nameservers 192.168.3.45 192.168.8.10
Pilihan pencarian (search) juga dapat digunakan dengan beberapa nama domain sehingga permintaan DNS akan ditambahkan dalam urutan di mana mereka masuk. Misalnya, jaringan yang mungkin memiliki beberapa sub-domain untuk mencari, sebuah domain induk dari smksakti.sch.id, dan dua sub-domain, data.smksakti.sch.id dan proxy.smksakti.sch.id.
Jika memiliki beberapa domain yang ingin dicari, penulisan konfigurasi akan terlihat seperti berikut:
Jika memiliki beberapa domain yang ingin dicari, penulisan konfigurasi akan terlihat seperti berikut:
iface eth0 inet static
address 192.168.3.3
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.3.1
dns-search smksakti.sch.id data.smksakti.sch.id proxy.smksakti.sch.id
dns-nameservers 192.168.3.45 192.168.8.10
Apabila melakukan ping pada sebuah host dengan nama server1, maka sistem akan otomatis meminta DNS untuk mencari Fully Qualified Domain Name (FQDN) dengan urutan sebagai berikut:
1. server1.smksakti.sch.id
2. server1.data.smksakti.sch.id
3. server1.proxy.smksakti.sch.id
Jika tidak ada kecocokan dari pencarian, DNS server akan memberikan hasil notfound dan permintaan DNS gagal.
Statik Hostname
Hostname secara lokal didefinisikan sebagai pemetaan hostname-ke-IP yang diletakkan dalam file /etc/hosts. Masukan (entries) pada file hosts akan memiliki awalan seperti halnya DNS secara default. Hal ini berarti bahwa apabila sistem mencoba untuk meresolve sebuah hostname dan tersedia atau cocok dengan masukan dalam file /etc/hosts, maka tidak dilanjutkan pencarian jejak (record) pada DNS. Pada beberapa konfigurasi, terutama jaringan yang tidak memerlukan koneksi internet, server-server yang berkomunikasi dengan sumber yang terbatas (limited resources) dapat dengan mudah diatur untuk menggunakan hostname statis bukan DNS.
Berikut ini adalah contoh dari file host dimana sejumlah server lokal telah diidentifikasi oleh hostname, alias dan penyetaraan Fully Qualified Domain Name (FQDN):
127.0.0.1 localhost
127.0.1.1 ubuntu-server 10.0.0.11 server1 vpn server1.smksakti.sch.id 10.0.0.12 server2 mail server2.smksakti.sch.id 10.0.0.13 server3 www server3.smksakti.sch.id 10.0.0.14 server4 file server4.smksakti.sch.id
Perhatian: Contoh di atas masing-masing server sudah diberikan alias yang disesuaikan dengan nama yang diinginkan dan sesuai FQDN. Server1 telah dipetakan ke nama vpn, server2 disebut sebagai mail, server3 sebagai www dan server4 sebagai file.
Konfigurasi Name Service Switch
Urutan di mana sistem memilih metode penerjemahan hostname ke alamat IP dikendalikan oleh Switch Name Service (NSS) dalam file konfigurasi /etc/nsswitch.conf. Seperti disebutkan dalam bagian sebelumnya, hostname biasanya statis didefinisikan dalam sistem file /etc/hosts yang dibandingkan dengan nama dari DNS. Berikut ini adalah contoh dari baris perintah yang bertanggung jawab atas urutan pencarian hostname di file /etc/nsswitch.conf:
hosts: files mdns4_minimal [NOTFOUND=return] dns mdns4
Menjembatani beberapa interface adalah konfigurasi yang lebih maju, tapi sangat berguna dalam beberapa skenario. Satu skenario adalah menyiapkan sebuah jembatan dengan beberapa interface jaringan, kemudian menggunakan firewall untuk menyaring lalu lintas antara dua segmen jaringan. Skenario lain adalah menggunakan jembatan pada sistem dengan satu interface untuk memungkinkan mesin virtual dapat melakukan akses langsung ke jaringan luar. Contoh berikut ini mencakup skenario terakhir.
Sebelum melakukan konfigurasi sebuah jembatan (bridge) maka instal terlebih dahulu paket bridge-utils. Ketikkan perintah berikut di terminal:
sudo apt-get install bridge-utils
Selanjutnya konfigurasi bridge dapat dilakukan dengan mengedit file /etc/network/interfaces:
auto lo
iface lo inet loopback
auto br0
iface br0 inet static
address 192.168.0.10
network 192.168.0.0
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.0.255
gateway 192.168.0.1
bridge_ports eth0
bridge_fd 9
bridge_hello 2
bridge_maxage 12
bridge_stp off
Sumber: www.ubuntu.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar